Bertahan dalam suatu hubungan jarak jauh selama kurang lebih hampir dua tahun adalah bukan hal yang mudah. Saling cemburu, kekurangan komunikasi setiap hari aku alami.
Kita bersatu secara baik-baik, tapi entah mengapa begitu pahit perkataanmu untuk mengakhirinya. Aku mengaku kalah, kalah pada jarak yang terbentang. Walaupun bukan aku yang menyerah terlebih dahulu.
Janjimu begitu manis dahulunya, dan sesuatu hal yang manis itu akan cepat pula menjadi terasa sangat pahit pada suatu waktu, yaitu saat ini. Kejelekan yang aku miliki menjadi sesuatu yang sangat melekat pada pikiranmu, dari pada kebaikan atau hal indah yang pernah kita lakukan.
Ahhh, andai saja aku dapat menghilangkan semua memori yang terkenang dalam otak ini, aku tidak akan merasa sesak jika aku mengingat masa lalu itu.
Terima kasih telah menjadi bagian di hari-hariku selama dua tahun ini, aku bahagia pernah memilikimu, dan semoga juga hatimu. Maaf terlalu sering membuatmu marah karena kelakuan burukku :')
Sebuah Coretan pada 30 April 2013
Coretan Kecil
Menangis kadang dapat membuat perasaan lebih baik. Entah tangisan itu merupakan tangisan kebahagiaan ataupun tangisan kesedihan. Disaat tidak ada lagi orang lain untuk tempat kita mengekspresikan perasaan, menangis adalah jalan satu-satunya.
Menangis bukan berarti menunjukan orang tersebut lemah atau payah, menangis itu mutlak dan wajar. Karena disitulah hati kita berperan.
Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa ia tidak pernah menangis, itu berarti dia munafik. Entah mereka berpikiran apa yang mengatakan bahwa mereka tidak pernah menangis, atau mungkin mereka ingin dianggap sebagai manusia yang kuat.
Hal tersebut bukannya dianggap kuat, tapi sebaliknya dianggap tidak memiliki perasaan karena tidak pernah memakai hatinya untuk merasakan sakit ataupun bahagia.
Tugas 4 (Laporan Buku)
Tulisan 8
Tulisan 7
Tulisan 6
Perkembangan Android di Indonesia (Tulisan 5)
Makanan Khas Indonesia (Tulisan 4)
Softskill (Tulisan 3)
Tulisan 2 (Hardskill)
Geliat Mobil Esemka (Tulisan 1)
Tugas 3
Tugas 2
- Penalaran Deduktif
- Penalaran Induktif
- Silogisme Kategorial;
- Silogisme Hipotesis;
- Silogisme Akternatif;
- Entimen.
Tugas 1
- Tim Balai Pustaka (dalam Wildan, 2010:21) mengatakan penalaran adalah cara menggunakan pemikiran atau cara berpikir logis, cara mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman, dan proses mental dalam mengembangkan atau mengendalikan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip.
- Penalaran menurut Shurter dan Pierce (dalam Wildan, 2010:20) sebagai terjemahan dari istilah “reasoning” dapat didefinisikan sebagai proses pencapaian kesimpulan logis berdasarkan fakta dan sumber yang relevan, atau merupakan kemampuan mengidentifikasikan atau menambahkan argumentasi logis yang diperlukan siswa untuk menyelesaikan soal.
- Copi (dalam Rahman, 2011:15) mendefinisikan penalaran sebagai bentuk khusus dari berpikir dalam upaya pengambilan penyimpulan konklusi yang digambarkan premis.
- Keraf (dalam Shadiq, 2004:2) menjelaskan penalaran (reasoning) sebagai proses berpikir yang berusaha menghubungkan fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang diketahui menuju suatu kesimpulan.
Tugas Softskill 3 (Resensi Artikel)
1. Data Publikasi
2. Sinopsis









